Apakah Logo UAD Anda Sudah “Benar”?

Oleh: Imam Azhari

Dalam ranah digital, asli dan salinan tidak memiliki perbedaan. Satu objek digital dalam bentuk file atau apapun dapat digandakan sebanyak yang diinginkan, dan semua salinannya memiliki bentuk yang sama persis dengan aslinya. Logo UAD sebagai objek digital memiliki karakteristik yang sama. Logo dapat digandakan sedemikian rupa untuk berbagai kebutuhan komunikasi visual. Namun dalam perjalanan copy-share (salin-sebarluas) tersebut, materi logo mengalami distorsi.

Berdasarkan hasil penelusuran saya menemukan setidaknya sembilan (9) variasi logo. Kesembilan logo masih menunjukkan bentuk dasar logo: lingkaran dan 12-sinar-khas-Muhammadiyah, namun memiliki sejumlah perbedaan esensial.

Logo sebagai media komunikasi visual menggambarkan identitas diri suatu institusi. Logo mengandung nilai-nilai filosofis yang menunjukkan jatidiri institusi. Di dalamnya terkandung ruh sekaligus semangat yang merupakan ejawantahan visi dan misi institusi. Jelas bahwa logo harus tampil kuat dalam berbagai media. Kekuatan logo dapat dibangun melalui konsistensi yang dibangun secara sadar dalam berbagai even.

Tulisan ini akan mengurai sejumlah distorsi logo dan menyajikan hasil verifikasi yang telah dilakukan dalam upaya pembakuan logo Universitas Ahmad Dahlan.

Warna Dasar

Hasil penelusuran pada berbagai dokumen dan para founding fathers Universitas, warna dasar logo UAD adalah biru dan kuning. Di dalam Statuta UAD warna dasar dituliskan sebagai “Warna lambang UAD adalah biru tua, kuning emas, putih perak yang disingkat biru, emas, dan putih”.

Representasi warna dalam pada media digital memerlukan standardisasi untuk mendapatkan konsistensi impresi visual. Kodifikasi warna biru tua perlu dilakukan dengan hati-hati mengingat cukup banyak institusi yang memanfaatkan warna ini sebagai corporate color. Warna bitu tua ini menurut Prof. Noeng Muhadjir menunjukkan kedalaman laut dan ketinggian langit sebagai wujud cita-cita UAD dalam eksplorasi ilmu pengetahuan.

Kesulitan terjadi saat merumuskan warna emas. Warna dasar emas adalah kuning, tetapi tingkat kekuningan emas memiliki derajat variasi yang cukup tinggi, mulai dari emas ‘muda’ sampai emas ‘tua’. Formulasi dasar warna kuning berdasarkan penjelasan Bapak Affandi (desainer logo UAD) adalah kuning tua. Kuning yang dalam dan kuat, tetapi secara visual tidak terlalu merah. Penjelasan ini diperkuat oleh pendapat Bapak Hadjam Murusdi bahwa warna dasar biru dan kuning merupakan warna dasar Muhammadiyah yang tidak boleh diubah karena memiliki nilai filosofis.

Inilah hasil kodifikasi warna biru dan kuning sebagai warna dasar:

Warna Biru dan Kuning UAD ini dapat dijadikan sebagai warna khas UAD (corporate color) untuk dimanfaatkan pada berbagai media komunikasi visual: papan nama, website, brosur/leaflet, kop surat, kartu nama, dll. Konsistensi pemanfaatan corporate color akan membentuk persepsi yang kuat sebagai bagian citra Universitas (brand image).

10 Distorsi Logo UAD

Berikut ini akan diuraikan 10 distorsi logo UAD yang saat ini beredar.

#1 Warna biru dan kuning tidak mencukupi

Terdapat beberapa logo yang saat ini beredar tidak menggunakan warna dasar biru dan kuning; atau biru dan kuning yang digunakan tidak baku.

#2 Outline berwarna biru

Garis tepi lingkaran luar dan lingkaran dalam logo UAD berwarna biru.

#3 Sinar di bagian bawah berwarna biru dan hijau

Sinar bagian bawah yang keluar dari tulisan UAD stylistic berwarna biru dan hijau.

#4 Lingkaran inti berwarna putih

Lingkaran inti logo yang memuat tulisan Muhammadiyah berwarna putih. Ada juga lingkaran berwarna kuning, namun tulisan Muhammadiyah berwarna putih. Lingkaran lapis kedua sebagai latar tulisan “wa fauqo…” juga mengalami distorsi.

#5 Font UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN tidak baku

Jenis huruf (font) yang digunakan pada tulisan UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN menggunakan font Arial.

#6 Tulisan Arab tidak rapi

Logo UAD memuat tulisan Arab yang merupakan bagian ayat alQuran. Tulisan ini pada logo yang ada diperoleh dengan cara dipindai dari sumber yang memiliki resolusi tidak memadai, sehingga hasil yang diperoleh tidak rapi. Jika diperbesar garis tepi tulisan Arab menjadi bergerigi.

#7 Tulisan Arab ‘salah’

Beberapa logo tampak telah diupayakan perbaikan pada kualitas tulisan Arab sehingga lebih rapi dan halus. Namun ada kesalahan fatal di bagian akhir tulisan “wa fauqo…” bahwa huruf mim tidak bersambung dengan lam yang seharusnya dilafalkan ‘a liim’.

#8 Tidak ada tulisan 1960

Tulisan 1960 di bagian bawah tulisan UAD stylistic merupakan bagian tak terpisahkan logo yang menggambarkan tahun berdirinya UAD. Beberapa logo telah ‘kehilangan’ angka tahun ini.

#9 Logo warna dicetak hitam-putih/grayscale

Mencetak logo berwarna menggunakan pencetak bertinta hitam akan menghasilkan gambar pada skala abu-abu (grayscale). Keperluan cetak-mencetak satu warna (monokrom) haruslah menggunakan logo monokrom agar kekuatan logo tampil secara meyakinkan.

#10 Logo monokrom tidak konsisten

Setidaknya ada 3 versi logo berwarna hitam yang saat ini digunakan. Versi yang banyak dipakai adalah lingkaran inti berwarna putih dengan tulisan Muhammadiyah hitam. Secara visual versi ini tidak konsisten dalam hal konversi warna biru-kuning menjadi hitam-putih.

Logo UAD yang telah Diverifikasi

Inilah logo UAD hasil verifikasi berdasarkan penelusuran dan diskusi dengan berbagai pihak. Download!


Tags:

 
 
 

Leave a Reply